My Diary: Seminar Pendidikan Part II

02.10 0 Comments

"Iya, Ma. Di brosur alamatnya di Suara Nafiri Convention Hall, kok," jawabku seraya memandangi brosur seminar di genggamanku. "Tapi, kok, ini kayak acara kawinan ya, Ma?"

"Iya. Takutnya pas kita masuk, kita salah alamat. Kan, malu kita tiba-tiba nyelonong masuk ke acara kawinan orang. Malah mama cuma pake kaos lagi," curhat mama dengan gelisah.


Awalnya, kami sudah ingin beranjak pergi dari tempat itu dan bersiap meminta pertanggung jawaban kepada bapak yang tadi kami tanyai di pinggir jalan. Namun, seorang tukang parkir yang berkalung peluit di lehernya terus melambaikan tangan kepada kami seolah kami adalah sahabat karibnya dari kampung. Dan mungkin, karena ketampanan sang tukang parkir (bisa jadi.-.) mama pun masuk ke pelataran parkir gedung itu.

"Ma, kalau bener-bener acara kawinan gimana?" tanyaku risau.

"Lihat kakak-kakak yang bawa kardus itu nggak? Kayaknya, dari gaya-gayanya dia panitia seminar ini," ujar mama sembari menunjuk seorang perempuan muda yang tengah berdiri di depan pintu masuk gedung. Aku pun memperhatikan perempuan itu. Dan saat seorang gerombolan ABG yang mungkin seusia denganku masuk ke dalam gedung itu, kerisauan itu seolah sirna dari bathinku.

Aku pun mengajak mama masuk ke dalam gedung itu. Dan benar saja, perempuan muda yang dari tadi kupandangi dari kejauhan adalah panitia seminar tersebut.

"Mari, Bu. Biar saya tunjukkan ruangannya," ujarnya ramah.

"Oh, ya, ya." Mama dan aku langsung berjalan mengikutinya. Karena penasaran dengan gedung ini, aku pun langsung mengedarkan pandanganku, menelusuri setiap sudut gedung.

"Ohhh... Ada dua acara ya di gedung ini. Kami kira tadi cuma acara kawinan aja," komentar Mama saat melihat tangga menuju lantai dua gedung itu dipenuhi dengan bunga-bunga indah.

Perempuan itu tak menjawab. Ia hanya tertawa kecil.

"Nah! Ini, Bu ruangannya. Ibu daftar dulu aja di sini," ujar perempuan itu yang kemudian pamit meninggalkan kami.
 
Mama pun mendaftar ulang diriku di meja panitia. Saat itu, aku mendapatkan papan tulis, notebook, dan juga kupon undian. Awalnya kami mengira seminarnya sudah dimulai. Namun ternyata, seminar itu baru akan dimulai setengah jam lagi. Alhasil, kami pun diminta untuk menunggu sejenak di ruang tunggu.

Ketika masuk ke dalam ruang tunggu, aku seperti merasa asing dengan semua orang di dalamnya. Tak ada satupun orang yang kukenal. Tapi yang anehnya, mereka terus memandangi aku dan mama. Mungkin, mereka heran kenapa aku ngajak ibu-ibu ke acara yang didominasi ABG-ABG seperti ini. 

"Tuh, kan, Ma. Caca bilang apa. Mama nggak usah ikut," dengusku kesal.

"Ya udah. Mama pulang, deh," jawab mama pura-pura ngambek.

"Eh, jangan. Masa Caca di sini sendirian." Karena tak ada orang yang kukenal, terpaksa aku harus baik-baikin mama agar dia mau menemaniku di sini -__- Tapi, nggak apa-apa juga, sih. Lumayan bawa mama, kalau lapar kan bisa tinggal tunjuk aja wkwkwk :v *muuvya,ma*

Selang beberapa menit, aku mulai merasa bosan dan suntuk. Waktu terasa bergulir begitu lambat. Benar kata orang-orang, "menunggu adalah hal yang paling menyebalkan."

"Eh, kasihan tuh, cewek di depan amu sendirian. Kenalan, gih. Siapa tahu bisa jadi teman," ujar mama seraya menunjuk seorang anak perempuan yang duduk sendiri di depanku. Aku kasihan juga melihatnya. Dia seperti merasa kesepian. Tak ada teman yang bisa diajak ngobrol. Tapi, aku tak berani. Aku tak terlalu terbiasa untuk SKSD dengan orang lain. 

Belum sempat aku mengomentarinya, mama sudah mencolek-colek anak perempuan itu. Ya ampun, ma. Hobi banget, deh, nyolek-nyolek orang. Kebiasaan nyuci pake sabun colek ya? *gubrak* .-.
Dan kali ini, aku tak boleh menyalahkan mama. Ternyata, anak perempuan yang dari tadi dicolek-colek oleh mama itu adalah Mutia, anak kelas VIII-Benjamin, tetangga kelasku. 

Karena nggak tega biarin dia sendirian, aku dan mama pun pindah ke tempat duduk di sebelahnya. Akhirnya, kami larut dalam obrolan yang ujung-ujungnya keberadaan mama jadi teracuhkan wkwkwk :v *muuvlagiya,ma*. Dari obrolan itulah aku tahu dia tak datang sendirian ke sini. Beberapa teman sekelasnya juga ikut dalam acara seminar ini. Beda halnya denganku. Kalau teman sekelasku mah nggak ada yang ikutan :3 Coba aja kalau anak kelas VIII Archimedes ikut semua, kan sudah pasti "My Diary" ini isinya tentang kalian semua hehe :D

Saat tengah asyik mengobrol dengan Mutia, tiba-tiba aku mendengar suara mama yang sepertinya sedang mengobrol dengan orang lain. Karena terganggu dengan suaranya yang ribut itu, alhasil aku pun menoleh ke arahnya. Ternyata, dia sedang mengobrol dengan temanku juga, Hanny dan Nadya. 

"Eh, kenal sama mereka?" tanya mama seolah tak percaya.

"Kenal, lah, Ma. Si Hanny kan dulu anak PMR. Nah, kalau si Nadya itu kan sepupunya," jawabku menerangkan. Mama pun hanya manggut-manggut mendengar penjelasanku. 

Karena sudah ada orang yang kukenal, alhasil aku tak merasa suntuk lagi. Dan tanpa terasa, panitia sudah menyuruh kami untuk masuk ke ruangan di mana seminar itu diselenggarakan. Aku, mama, teman-temanku, dan peserta yang lainnya pun segera masuk ke dalam ruangan itu. Melihat ruangan seminar yang cukup besar, aku, mama dan teman-temanku memilih untuk duduk di bangku kedua dari panggung.

"Eh, cok sambung itu bisa dipake nggak, ya?" tanya Hanny saat melihat cok sambung di depan kami.

"Kayaknya, sih, bisa. Emangnya buat apa?" jawabku seraya mengerutkan dahi.

"Nih! Iphone dia lowbat. Dari tadi heboh kali dia," sahut Nadya sembari menunjukkan tas Hanny yang terbuka sedikit. Aku pun mengintip tas itu. Ternyata di dalamnya terdapat laptop dan Iphone Hanny. Sepertinya, Hanny sedang menyedot energi laptop itu untuk mengisi baterai Iphone-nya yang lowbat.

"Kenapa nggak bawa powerbank, Han?" tanyaku. Saat Hanny baru saja akan menjawab pertanyaanku, Nadya sudah menyahut.

"Powerbank-nya pun lupa dia charge. Emang asyik lupa aja lah, anak ini," ujar Nadya seraya menunjuk-nunjuk muka Hanny. Sementara itu, kulihat mimik muka Hannya yang sudah mulai kesal dengan kelakuan sepupunya itu. Melihat kejadian itu, aku hanya bisa terkikik geli.

Saat akan mengajak mama ngobrol, aku langsung tercekat mendengarnya. Ia terlihat sedang sibuk mempromosikan buku terbaruku (PCPK Pesulap Misterius) kepada peserta seminar lainnya. Walau sempat malu karena melihat aksi mama yang terus mempromosikan bukuku seperti pedagang cabai di pasar, aku bangga padanya. Setiap ada acara apapun yang mempertemukannya terhadap khalayak umum, ia pasti membawa bukuku itu. Bahkan, tanpa sepengetahuanku sama sekali. 

"Dia memang bisa nulis, tapi kalau untuk bantuin mamanya, jarang banget," ujar mama seraya melirik ke arahku. Oke. Mama sudah mulai mengungkit-ungkit soal itu. Meski aku merasa sudah sering membantu Mama, tapi ia selalu menganggap aku jarang membantunya menyelesaikan pekerjaan rumah-___-

Setelah menunggu setengah jam, acara seminar itu tak kunjung dimulai. Alhasil, aku kembali merasa bosan. Sementara itu, mama terlihat tengah asyik SMS-an dengan kawabn-kawannya. Tiba-tiba, terdengar suara mic yang diketuk beberapa kali. Aku segera memperbaiki posisi dudukku dan memerhatikan panggung yang kosong. Padahal, tadi ada beberapa orang panitia yang tengah sibuk merapikan sesuatu di sana.

Musik yang terdengar semangat tiba-tiba diputarkan melalui speaker. 

"Selamat pagi, semuanya!" teriak seseorang dari belakang. Aku pun langsung menoleh ke belakang dan mendapati seorang pria berjas yang tengah berlari ke atas panggung. (bersambung)

Salsadzwana

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 komentar: